Petualangan di Dunia Islami - Bagian 2
Petualangan di Dunia Islami
Oleh : Khansa Azizah Kamiliya
Hai, ketemu lagi sama aku. Kali ini, kita ada di bagian 2. Gimana, ya ceritanya? Yuk baca!
***
Aku berangkat sekolah dengan hati yang berdebar-debar. Aku tak sabar ingin memberi tahu sahabatku tentang penulis buku baru yang bari saja kubeli kemarin.
"Shilla, Fia, Tia, sini!" ajakku. Yang dipanggil pun datang.
"Apaan?!" sahut Tia ketus."aku lagi asyik baca buku, nih. Keganggu tau!" lanjutnya sewot.
"Ya udah. Kamu lanjutin aja baca bukunya. Gak usah tau apa yang kami bicarakan," ucapku tak kalah sewot.
"Eeeh...," kata Tia salah tingkah. Aku menang!
"Aku udah buka bungkus bukunya. Isinya menarik sekali. Oh, ya, nama Mira. Dia tinggal di kota Al-Islamiyah. Perasaan, gak ada kota yang namanya kayak begitu. Aneh kan?" kataku panjang dikali lebar dikali luas. Hehehe...
"Kota Al-Islamiyah? Gak ada kota begituan. Ini adalah sebuah kasus yang rumit," pikir Fia seperti detektif. Penyakit "detektif"-nya kambuh lagi.
Kriiing!!! Bel masuk berbunyi. Kami terpaksa menghentikan pembicaraan lalu menyiapkan buku pelajaran berikutnya.
***
"Shilla, Fia, Tia, nanti ke rumahku, ya!" ucapku mengingatkan. Mereka mengangguk.
"Pulang bareng, yuk!" ajak Shilla.
"Ayuuk!" Kami pun akhirnya pulang bersama.
***
Ting! Tong! Ting! Tong!
Suara bel mengagetkanku yang sedang asyik membaca buku. Aku terlonjak gembira. Pasti itu mereka! Aku pun membukakan pintu.
"Hai! Ayo masuk! Mari kita baca buku!" ajakku mempersilahkan mereka masuk. Tanpa basa basi lagi, kami pun ke lantai atas untuk membaca buku karya Almira Syahidah.
Dalam waktu 2 jam, buku itu bisa habis oleh kami, bukan habis dimakan ya teman-teman! Hehehe... Karena besok libur, mereka diizinkan menginap disini. Sebenarnya sih, aku yang meminta. Hihihi...Saat kami membuka halaman terakhir, sesuatu terjadi. Buku itu mengeluarkan sinar yang menyilaukan mata. Lalu kami terhisap ke dalam buku itu.
"TOLOOONG..!!" teriak kami. Sayangnya, tidak ada yang mendengar kami. Kami pun terhisap ke dalam buku itu.
BRUK! Aku terbentur sesuatu. Sakit sekali. Aku membuka mataku perlahan. Tunggu, ini bukanlah kamarku. Melainkan sebuah pedesaan.
Ada dimana kami?